Di luar dugaan banyak orang, pemilihan kepala daerah di Nanggroe Aceh Darussalam ternyata berlangsung nyaris tanpa pelanggaran berarti dan keributan besar. Aceh bisa menjadi contoh bagi daerah lain yang belum menyelenggarakan acara serupa.
Inilah pertama kali rakyat Nanggroe Aceh Darussalam memilih secara langsung dan serentak calon-calon kepala daerah, baik di tingkat I maupun II. Diperkirakan sekitar dua juta warga di seluruh Aceh memberikan suara kepada 103 pasangan calon itu di 8.471 tempat pemungutan suara. Hanya masyarakat di Kabupaten Aceh Selatan dan Bireuen yang belum memilih kepala daerahnya.
Pesta demokrasi kemarin bisa dikatakan sebagai peristiwa bersejarah yang penting dan akan menentukan wajah Aceh pada tahun-tahun mendatang. Setelah bertahun-tahun menjadi kawasan yang bergolak, penuh konflik bersenjata, Aceh telah membuktikan sebagai daerah yang dapat berdemokrasi secara tertib dan damai. Meski diwarnai ledakan bom rakitan tanpa korban jiwa, secara umum pemilihan kepala daerah berlangsung aman dan damai.
Tak ada gading yang tak retak. Begitu juga penyelenggaraan pemilihan kepala daerah di Aceh, yang masih memiliki kekurangan di sana-sini. Pada masa kampanye, misalnya, terjadi pembakaran atribut kampanye salah satu calon. Bukan mustahil, laporan kecurangan hasil penghitungan suara pun ada kemungkinan muncul pada beberapa hari ke depan.
Kita berharap riak-riak yang menodai pelaksanaan pemilu seperti itu segera diproses dan tak boleh dibiarkan begitu saja. Jangan sampai seperti yang juga terjadi di daerah-daerah lain, pelanggaran semacam itu sekadar menjadi catatan tanpa proses lanjutan yang jelas. Panitia Pengawas Pemilihan Daerah paling banter cuma mencatat, lalu mengeluh, dan berperang kata di media massa bahwa pasangan ini dan itu terbukti mencuri start, tapi tetap saja tak tersentuh hukum.
Kita mestinya tak boleh lagi memaklumi pelanggaran seperti itu. Panitia Pengawas jangan hanya menjadi macan kertas. Setiap calon yang terbukti melanggar undang-undang, misalnya melakukan kecurangan, mesti diproses sesuai dengan hukum. Bila bersalah, ya harus dikenai sanksi.
Hasil akhir pemilihan kepala daerah di Aceh nanti tak bisa menyenangkan semua pihak. Seperti halnya di daerah mana pun, selalu ada yang puas dan tak puas. Ini wajar. Namun, pemilihan yang sudah berlangsung kemarin adalah satu-satunya cara pemilihan pemimpin daerah yang sah dan bertanggung jawab. Karena itu, kalau ada yang belum bisa menerima hasil itu, lebih baik menyalurkannya melalui mekanisme yang diatur undang-undang.
Sebentar lagi kita akan melihat para pemimpin baru di Aceh. Bersama wakil-wakil rakyat daerah, para pemimpin hasil pilihan rakyat itu akan segera merancang anggaran, menentukan prioritas pembangunan, dan sebagainya. Kepada merekalah harapan masa depan Aceh yang lebih baik kita sandarkan.
Tuesday, December 12, 2006
Monday, November 20, 2006
Hasil Pertemuan Bogor
Memuliakan tamu tentu perbuatan baik. Apalagi bila yang datang itu tamu negara. Sudah selayaknya kita menyambutnya dengan sebaik-baiknya. Sebab, sebagai anggota masyarakat dunia yang beradab, Indonesia memang harus memberikan sambutan yang proporsional dan memberikan jaminan keselamatan kepada setiap tamu negara, termasuk Presiden Amerika Serikat George Walker Bush.
Namun, rasanya ada yang kurang imbang dalam pertemuan antara Bush dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin. Secara sepintas, Indonesia memberikan terlalu banyak untuk suatu kunjungan selama enam jam itu. Lihat saja dari persiapan penyambutan Bush yang menghebohkan. Begitu banyak tenaga, waktu, dan dana yang terbuang, juga kerepotan persiapan pengamanan selama sepekan.
Tentu saja ini belum memperhitungkan pengorbanan warga Bogor khususnya. Mereka harus memikul pelbagai ketidaknyamanan--terkurung di rumah, tak bisa beraktivitas normal, kehilangan penghasilan, kesempatan belajar, dan sebagainya.
Seperti sudah diduga, hasil pertemuan kedua pemimpin itu ternyata biasa-biasa saja. Bush dan Yudhoyono tak membahas agenda besar yang mendesak, tapi lebih banyak membicarakan sejumlah agenda soft-power, misalnya kerja sama di bidang pendidikan dan kesehatan. Pertemuan kemarin sekadar kelaziman diplomatik. Bush membalas kunjungan Yudhoyono ke Amerika pada Februari lalu.
Kunjungan Bush yang singkat itu akhirnya hanya bisa dikesankan sebagai simbol bahwa negara adidaya itu tetap menganggap Indonesia sebagai sekutu yang penting dalam perang melawan terorisme di Asia. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia layak diberi perhatian.
Tentu saja ini pun tak bisa dilepaskan dari kepentingan Amerika yang tengah menderita setelah teroris menabrakkan pesawat di menara kembar World Trade Center pada 2001 dan Bush meniup trompet perang melawan terorisme.
Setelah Bush meninggalkan Bogor, yang tertinggal hanya ribuan aparat keamanan yang kuyu. Lampu-lampu Istana Bogor padam, meninggalkan jejak kunjungan, serta piring dan gelas kotor. Setelah ribuan pengunjuk rasa pulang dan tidur di rumah masing-masing, yang masih ada cuma kepenatan. Segala kehebohan, keriuhrendahan, dan gegap-gempita massa yang menyambutnya berlalu begitu saja. Kalaupun ada sejumlah komitmen dari Bush, belum tentu itu bakal terwujud dalam waktu dekat.
Diterbitkan di Koran Tempo, 21 Nopember 2006
Namun, rasanya ada yang kurang imbang dalam pertemuan antara Bush dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin. Secara sepintas, Indonesia memberikan terlalu banyak untuk suatu kunjungan selama enam jam itu. Lihat saja dari persiapan penyambutan Bush yang menghebohkan. Begitu banyak tenaga, waktu, dan dana yang terbuang, juga kerepotan persiapan pengamanan selama sepekan.
Tentu saja ini belum memperhitungkan pengorbanan warga Bogor khususnya. Mereka harus memikul pelbagai ketidaknyamanan--terkurung di rumah, tak bisa beraktivitas normal, kehilangan penghasilan, kesempatan belajar, dan sebagainya.
Seperti sudah diduga, hasil pertemuan kedua pemimpin itu ternyata biasa-biasa saja. Bush dan Yudhoyono tak membahas agenda besar yang mendesak, tapi lebih banyak membicarakan sejumlah agenda soft-power, misalnya kerja sama di bidang pendidikan dan kesehatan. Pertemuan kemarin sekadar kelaziman diplomatik. Bush membalas kunjungan Yudhoyono ke Amerika pada Februari lalu.
Kunjungan Bush yang singkat itu akhirnya hanya bisa dikesankan sebagai simbol bahwa negara adidaya itu tetap menganggap Indonesia sebagai sekutu yang penting dalam perang melawan terorisme di Asia. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia layak diberi perhatian.
Tentu saja ini pun tak bisa dilepaskan dari kepentingan Amerika yang tengah menderita setelah teroris menabrakkan pesawat di menara kembar World Trade Center pada 2001 dan Bush meniup trompet perang melawan terorisme.
Setelah Bush meninggalkan Bogor, yang tertinggal hanya ribuan aparat keamanan yang kuyu. Lampu-lampu Istana Bogor padam, meninggalkan jejak kunjungan, serta piring dan gelas kotor. Setelah ribuan pengunjuk rasa pulang dan tidur di rumah masing-masing, yang masih ada cuma kepenatan. Segala kehebohan, keriuhrendahan, dan gegap-gempita massa yang menyambutnya berlalu begitu saja. Kalaupun ada sejumlah komitmen dari Bush, belum tentu itu bakal terwujud dalam waktu dekat.
Diterbitkan di Koran Tempo, 21 Nopember 2006
Subscribe to:
Posts (Atom)