Tuesday, May 15, 2007

Ambruknya Bulu Tangkis Kita

Hasil Indonesia Open yang berakhir Ahad lalu amat memalukan. Tak satu pun medali emas diraih oleh tim Merah Putih. Kekalahan telak ini merupakan tanda bahaya bagi perbulutangkisan kita. Maka Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia perlu melakukan evaluasi total terhadap pembinaan olahraga tepuk bulu ini.

Prestasi bulu tangkis kita benar-benar merosot ke titik terendah. Sejak turnamen tersebut diselenggarakan pada 1982, ini pertama kalinya kita tak kebagian medali emas. Satu-satunya hiburan datang dari pasangan ganda campuran Nova Widianto-Lilyana Natsir yang meraih medali perak. Di final mereka kalah dari pasangan Zheng Bo-Gao Ling dari Cina.

Tanda-tanda ambruknya bulu tangkis kita sebenarnya sudah lama muncul. Sebelumnya, pebulu tangkis kita telah sering keok di pelbagai turnamen. Dalam daftar terbaru peringkat pemain dunia yang dikeluarkan IBF pun, cuma pasangan Nova Widianto-Lilyana Natsir yang masuk lima besar, persisnya di urutan ketiga.

Kemerosotan prestasi itu tampak mencolok karena pembinaan bulu tangkis kita bagai berjalan di tempat, sedangkan kekuatan baru bermunculan. Sejak dipertandingkan di Olimpiade 1992, olahraga ini mulai dikembangkan di banyak negara. Amerika Serikat bahkan sampai perlu mengimpor pemain pelatih asing demi memajukan prestasi bulu tangkisnya.

Jangan heran pula jika Prancis dan Bulgaria kini juga mulai unjuk gigi. Padahal sebelumnya, mereka nyaris tak terdengar di kancah persaingan bulu tangkis dunia. Ironisnya, Indonesia justru mengekspor pelatih andalannya. Beberapa pemain juga lebih suka hengkang ke luar negeri.

Banyak soal yang membuat badminton di negeri ini semakin jeblok. Salah satunya, kaderisasi yang terputus. Kita pernah memiliki tim bagus pada era Liem Swie King pada 1970-an hingga 1980-an. Kemudian lahir lagi generasi Ardy B. Wiranata, Alan Budi Kusuma, dan Susi Susanti. Kegemilangan mereka dilanjutkan pasangan ganda Ricky dan Rexy, lalu Taufik Hidayat. Tapi, setelah itu, kita mengalami paceklik prestasi. Prestasi tim putri malah sudah tenggelam lebih awal. Tak ada lagi penerus Susi yang sanggup bersaing di tingkat dunia.

Jagoan-jagoan baru tidak muncul karena tiada pembinaan yang serius oleh PBSI. Organisasi ini seolah hanya menampung bibit-bibit pemain yang sudah matang, tapi tidak memikirkan pembinaannya di daerah-daerah. Padahal penggemblengan pada usia dini merupakan kunci sukses meraih prestasi tinggi dalam olahraga, termasuk bulu tangkis.

Merosotnya pembinaan itu bisa kita lihat dengan kasatmata dari semakin sepinya turnamen kelompok usia. Kejuaraan nasional bulu tangkis memang masih ada setahun sekali. Namun, beberapa turnamen seperti yang diadakan oleh Milo dan Ardath di beberapa daerah sudah tak ada lagi.

PBSI harus bekerja keras untuk mengevaluasi sekaligus membenahi pembinaan bulu tangkis. Jika tidak, bersiap-siaplah tim kita sering dipermalukan di berbagai ajang dunia dalam kurun waktu yang lama.

Friday, April 20, 2007

Rombaklah Kabinet demi Kinerja

Ada benarnya juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan rencana perombakan (reshuffle) kabinet sambil makan durian di Cihideung, Bogor, Jawa Barat, Ahad lalu. Ada pelajaran yang bisa dipetik dari sana. Seperti memilih durian, dalam merombak kabinet, Presiden mesti membuang yang busuk dan mengambil yang segar serta tebal dagingnya. "Ilmu durian" ini perlu diterapkan agar kinerja Kabinet Indonesia Bersatu membaik dan mampu mewujudkan harapan masyarakat.

Kita tahu tak semua menteri bekerja optimal. Sebagian di antara mereka malah bermasalah, misalnya ada menteri yang menyalahgunakan rekening departemen untuk kepentingan perorangan dan melanggar Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Yang seperti ini memang layak diberhentikan. Begitu pula menteri yang memiliki konflik kepentingan dengan kasus lumpur Lapindo, perlu dipertimbangkan untuk diganti.

Nah, mencari calon pengganti hendaknya seperti memilih durian. Jangan terlalu terpaku pada satu pohon. Perombakan jangan semata demi memenuhi tuntutan Partai Golkar yang merasa jatahnya masih kurang. Perombakan kabinet mesti lebih didasarkan atas perbaiki kinerja kabinet yang selama ini melempem.

Secara keseluruhan, kabinet ini belum mampu melaksanakan tugas-tugas utama, seperti memberantas korupsi, memerangi kemiskinan, mengurangi pengangguran, serta memperbaiki layanan pendidikan dan kesehatan. Tiada peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran yang dirasakan masyarakat selama pasangan Yudhoyono dan Jusuf Kalla memerintah.

Buat memacu kinerja kabinet, Presiden harus berani mencopot menteri-menteri yang kurang mampu dan menggantikan dengan figur yang bisa melaksanakan tugas-tugas utama itu. Langkah ini perlu dilakukan dengan cepat dan cermat jika pasangan Yudhoyono-Kalla ingin tampil lagi pada periode mendatang. Seperti yang pernah dikatakan Jusuf Kalla sendiri, apa yang "telah" (bukan yang "akan") dilakukan oleh pemerintah ini merupakan bahan kampanye yang penting untuk pemilihan presiden dan wakil presiden 2009.

Sikap tegas mungkin tidak gampang diambil karena Presiden mesti mempertimbangkan kepentingan partai-partai pendukungnya. Jika tidak, Yudhoyono bisa digoyang oleh parlemen. Hal ini pernah dialami oleh Presiden Abdurrahman Wahid enam tahun lalu dan berakibat ia jatuh dari kekuasaan. Tapi pelajaran ini jangan sampai membuat Yudhoyono terlalu didikte oleh partai-partai.

Kepentingan partai-partai bukannya tidak bisa dikompromikan dengan keperluan memperbaiki kinerja kabinet. Di sinilah kepemimpinan Yudhoyono-Kalla diuji. Presiden boleh-boleh saja tetap mengambil calon dari partai untuk merombak kabinet. Tapi pilihlah yang terbaik dan sesuai dengan kebutuhan di antara calon-calon menteri yang disodorkan partai itu.